Ucapan selamat seharusnya disampaikannya kemarin. Entah lupa atau sengaja. Yang jelas waktu bangun tidur pagi tadi disampaikannya. Terlambat… tidak juga. Nyatanya aku sendiri tidak mengucapkannya waktu kemarin. Apa karena sudah lima belas tahun usia perkawinan itu ? Entahlah.
Suka duka sudah kulewati bersama, namun masih ada saja yang kurang. Padahal anak sudah ada, rumah sudah punya (meski masih di wilayah tanah orangtua). Lalu apa yang kurang.
Baru muncul jawabannya setelah menjelang senja. Aku kurang membekali anak dan istriku tentang bagaimana menghadapi dunia yang fana ini. Khususnya bekal agama. Sempat terlintas kembali perkataan adikku dalam menyikapi hidup.
Aku harus dapat menuntun dan membimbing keluargaku. Aku tak ingin memasuki surga sendirian. Minimal keluargaku harus turut serta. Ucapan adikku itu masih terekam dibenakku.
Mulai dari diri sendiri, dari yang terkecil dan dari sekarang. Begitu ucapan AA Gym. Apa salahnya aku jalankan. Semoga bisa membimbing dan menjadi panutan di keluargaku. Amien.
Filed under: Kenangan