• Kalender

    Februari 2010
    S S R K J S M
    « Feb    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
  • Arsip

Kembali ke Huruf Hanacaraka

Untuk orang Jawa Tengah memang sudah tidak asing lagi dengan Huruf “hanacaraka”, namun lain halnya dengan saya yang diakuinya sebagai turunan orang jawa. Meski kedua orang tua berasal dari Jawa Tengah (Klaten, Delanggu, Kali Tengah) tapi aku lahir dan besar di Jakarta.

Kenal huruf “hanacaraka” pada waktu SMA ketika ingin membuat bahasa sandi untuk komunikasi antar teman. Maklum bahasa semaphore (yang menggunakan bendera), dan bahasa sandi lainnya yang ada di “Pramuka” tidak tertarik karena banyak yang sudah tahu.

Ayahku yang mengenalkan sekaligus mengajarkan huruf hanacaraka, namun setelah ayahku tiada (meninggal dunia) tidak ada lagi yang mengajarkan padahal masih banyak yang ingin ku ketahui.

Setelah lebih dari 20 tahun tidak ada yang mengajarkan, baru hari ini dapat mencoba untuk berkreasi kembali menggunakan huruf Jawa (hanacaraka), yang font hanacaraka di dapat dari situs : ini

Lega rasanya dapat berkreasi kembali, meski baru dapat melakukannya di komputer sendiri, namun mohon maaf sebelumnya karena tulisan dengan menggunakan huruf hanacaraka belum bisa ditampilkan di blog ini karena memang belum mengetahui caranya.

Bona Taon

Nana and Ita
Hasil Liburan Akhir Tahun 2008. Dua sejoli yang sedang berlibur di atas Jembatan Kereta kali Bogowonto, menunggu awal tahun 2009. Di ambil dengan menggunakan HP yang tidak ber-merk terkenal, kayanya buatan Cina.

Nyaris Terabaikan

Ucapan selamat seharusnya disampaikannya kemarin. Entah lupa atau sengaja. Yang jelas waktu bangun tidur pagi tadi disampaikannya. Terlambat… tidak juga. Nyatanya aku sendiri tidak mengucapkannya waktu kemarin. Apa karena sudah lima belas tahun usia perkawinan itu ? Entahlah.

Suka duka sudah kulewati bersama, namun masih ada saja yang kurang. Padahal anak sudah ada, rumah sudah punya (meski masih di wilayah tanah orangtua). Lalu apa yang kurang.

Baru muncul jawabannya setelah menjelang senja. Aku kurang membekali anak dan istriku tentang bagaimana menghadapi dunia yang fana ini. Khususnya bekal agama. Sempat terlintas kembali perkataan adikku dalam menyikapi hidup.

Aku harus dapat menuntun dan membimbing keluargaku. Aku tak ingin memasuki surga sendirian. Minimal keluargaku harus turut serta. Ucapan adikku itu masih terekam dibenakku.

Mulai dari diri sendiri, dari yang terkecil dan dari sekarang. Begitu ucapan AA Gym. Apa salahnya aku jalankan. Semoga bisa membimbing dan menjadi panutan di keluargaku. Amien.